
Sebanyak 20 babi di Kelurahan Oebufu, Kupang, NTT, belum lama ini, mati mendadak. Semula para peternak menganggap kejadian tersebut hal biasa. Namun sejak mewabahnya flu babi, timbul dugaan babi-babi tersebut mati karena virus H1N1. Meski begitu pemilik ternak tidak melaporkan kematian binatang peliharaannya ke Dinas Peternakan setempat.
Hal berbeda dilakukan peternak babi di Magelang, Jawa Tengah. Sebagai langkah antisipasi, para peternak memindahkan babi peliharaan jauh dari tempat tinggal penduduk. Mereka juga rutin menjaga kesehatan binatang peliharaan melalui pemberian obat antibiotik.
Sementara itu, Dinas Pertanian Solo, Jateng, mengantisipasi penyebaran flu babi dengan mengadakan penyemprotan desinfektan di rumah pemotongan Jagalan. Sasaran lainnya dilakukan di sejumlah peternakan babi di Mojosongo. Penyemprotan dilakukan untuk mencegah berkembangnya kuman, bakteri, virus dan parasit pada babi. Dinas setempat juga memperketat penyembelihan serta distribusi daging babi keluar daerah.
Kegiatan serupa juga dilakukan Dinas Peternakan Bali. Penyemprotan desinfektan pada kandang-kandang babi merupakan langkah pertama guna meminimalisir penyebaran virus. Desinfektan yang digunakan sama dengan desinfektan pencegah flu burung. Salah satu daerah yang dijadikan sasaran adalah kandang babi yang berdekatan dengan pemukiman warga di Jalan Kresek, Denpasar.
Untuk memastikan kebersihan daging babi, Dinas Peternakan dan Dinas Perdagangan Bali juga menginspeksi industri pengolahan daging babi. Inspeksi mendadak ini untuk memastikan daging yang diolah bukanlah daging impor. Sementara Departemen Pertanian di Jakarta memastikan seluruh ternak di Indonesia yang jumlahnya mecapai 7 juta ekor belum terjangkit virus H1N1. Pemerintah juga melarang impor ternak babi, daging babi segar, dan produk olahan babi yang tidak dimasak. Departemen Pertanian membuka nomor telepon pengaduan kasus flu babi di nomor 0817-667-7161.
Pencegahan dini pun dilakukan pada sarana transportasi yang menghubungkan Indonesia dengan dunia internasional. Sedikitnya 11 bandar udara kini dipasangi alat sensor panas tubuh untuk mencegah masuknya penumpang dari penerbangan internasional yang diduga tertular virus flu babi.
Satu di antara bandara yang sudah memberlakukan sistem itu adalah Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali. Penumpang asal luar negeri akan disambut dengan alat thermoscan atau sensor panas tubuh. Jika suhu lebih dari 39 derajat Celcius, alat akan otomatis berbunyi diikuti penyemprotan desinfektan alkohol 70 persen.
Ruang karantina juga telah disiapkan jika ada yang terdeteksi memiliki gejala virus H1N1. Petugas akan membawa penderita untuk ditelisik indikasi terjangkit flu babi. Bandar udara lainnya yang diamankan dengan sensor panas tubuh adalah Bandara Sukarno-Hatta dan Halim Perdana Kusuma, Jakarta; Juanda Surabaya, Jawa Timur; Polonia Medan, Sumatra Utara; Hang Nadim, Batam; Adisutjipto Yogyakarta dan Adisumarmo Solo, Jawa Tengah; Hasanuddin Makassar, Sulawesi Selatan; Sepinggan Balikpapan dan Sultan Mahmud Badarudin II Palembang



this babi news scared people in the worlds lately.
BalasHapuspray for good.
;)
yess, i also think that (sory bad languege)
BalasHapus