
Pantai Kuta dan Pantai Segar, dua kawasan wisata pantai berpasir putih di Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah sudah terkenal keindahannya ke mancanegara.
Bukan hanya pasir putih, potensi gelombang, dan pulau-pulau karangnya semata yang menjadi keindahan pantai di Desa Kuta. Sejarah dan legenda yang menjadi tradisi turun-temurun turut melengkapi keindahannya.
Sama seperti mitos Nyai Roro Kidul, penguasa laut di pantai selatan Jawa, masyarakat Sasak –suku asli di pulau Lombok- punya mitos tentang putri Mandalika. Seorang wanita cantik penuh kebijaksanaan yang dipercaya jiwanya masih berdiam di kawasan pantai Selatan pulau Lombok.
Kehadiran sang putri disambut setiap tahun dalam bentuk tradisi “Bau Nyale” (Bahasa sasak berarti dapat menyala), sebuah pesta rakyat kolosal, di mana ribuan orang turun ke pantai untuk berburu tubuh putri Mandalika di sepanjang pantai Selatan Lombok.
Sejak sore, Amaq Rozali (54), warga Desa Prabu, Kecamatan Pujut, sudah berada di pantai Seger, di Desa Kuta. Bersama istri dan dua anaknya, Rozali menyiapkan tempat bermalam di pantai itu. Bekal seadanya, nasi bungkus dan dua botol air mineral.
“Kami mencari Nyale (cacing laut). Kalau dapat banyak berarti rejeki tahun ini banyak,” kata Rozali.
Tikar digelar, istri Rozali mengeluarkan bungkusan nasi yang kemudian disantap bersama dua anak lelakinya. Rozali membenahi sorok yang dibawa alat tradisional terbuat dari belahan bambu segitiga bertangkai, yang dibalut jala halus.
Sorok itu disiapkan untuk menangkap Nyale, sebutan untuk cacing laut jenis Wawo, yang masa perkembangannya hanya sekali setahun. Masyarakat Lombok meyakini Nyale yang muncul setahun sekali itu, merupakan penjelmaan putri Mandalika.
“Ini tradisi, dari dulu sejak kecil, orang tua saya pun selalu mengajak saya mencari Nyale setiap tahun,” kata Rozali.
Tradisi Bau Nyale merupakan tradisi turun temurun di Lombok sejak ratusan tahun silam, bersamaan dengan mitos putri Mandalika.
Konon, Mandalika merupakan putri cantik dari kerajaan Tunjung Beru. Karena kecantikannya, sang putri diperbutkan banyak pangeran yang ingin mempersuntingnya. Hasrat mempersunting Mandalika membuat semua pangeran ingin bersaing bahkan saling menantang perang dan uji kesaktian.
Di tengah ancaman konflik antar kerajaan para pangeran yang ingin memperebutkannya, Mandalika akhirnya memilih menceburkan diri ke laut. Sebelum menceburkan dirinya, sang putri meninggalkan pesan, bahwa apa yang dilakukannya adalah demi masyarakat Lombok, agar tidak terpecah-pecah. Ia pun berpesan tubuhnya akan menjadi milik semua masyarakat Lombok.
“Dalam pesan legenda itu, Putri Mandalika akan memunculkan diri tepat pada tanggal 20 bulan 10 kalender Sasak. Dan laut di maksud adalah pantai Seger, di Desa Kuta, ini. Nah, saat para leluhur kami mencarinya di tanggal itu, ternyata yang ditemukan adalah Nyale atau cacing laut. Karena itulah masyarakat percaya bahwa Nyale ini adalah penjelmaan Mandalika,” kata budayawan Lombok Tengah, Lalu Putriadi.
Tahun ini, tanggal 20 bulan 10 dalam kalender Sasak, jatuh pada tanggal 26-27 Februari 2008.
Sebagian masyarakat meyakini, Nyale yang didapat akan membawa rejeki. Bisa berupa kesuburan pertanian, dan juga keberhasilan peternakan.
Seperti keluarga Rozali, ribuan masyarakat datang ke Pantai Seger sejak 26 sore. Harus menginap, karena nyale muncul saat air surut, malam menjelang dinihari, hingga subuh.
Mereka membawa peralatan seperti sorok, bak penampung Nyale, dan senter.
Menunggu saatnya berburu, masyarakat setempat menonton sejumlah atraksi kesenian tradisional. Mulai dari joget gandrung, hingga parisaian.
Proses pencarian Nyale mulai dilakukan menjelang pergantian hari. Air laut di sepanjang pantai Seger, mulai surut menjelang dinihari, menyisakan batu-batu karang sepanjang 300-400 meter dari bibir pantai.
Suasana pantai Seger pun seperti hidup. Banyak cahaya senter, manusia berjejalan, tua-muda, pria-wanita. Ada juga teriakan-teriakan yang dipercaya mengundang hadirnya cacing Nyale.
“Embe Taokmu Mandalika? (Bahasa sasak berarti dimana engkau berada Mandalika?),” diteriakkan bergantian. Tujuannya agar cacing-cacing itu keluar dari karang dan mudah dijerat menggunakan sorok.
Seperti namanya, Nyale atau nyala, jenis cacing Wawo ini berwarna merah dan hijau kecoklatan, dan akan membias banyak warna ketika terterpa cahaya. Cacing-cacing itu dicari di kubangan air laut di karang, mereka keluar dari karang-karang itu.
Proses pencarian berhenti ketika menjelang fajar, karena air laut kembali pasang menutupi karang-karang.
“Ini luar biasa. Saya berlibur ke Lombok, tetapi saya mendapatkan ekstra melihat tradisi ini. Ada banyak sekali orang, tetapi damai. Saya juga mencari Nyale, tapi tidak dapat,” kata Daniel wisatawan asal Belanda.
Tahun ini Bau Nyale termasuk dalam salah satu event pada Visit Indonesia Years 2008.
Pemerintah Lombok Tengah mengemasnya menjadi sebuah festival sejak 24 hingga 28 Februari.
“Puncak acara sebenarnya 26-27 karena saat itulah tradisi bau Nyale dilakukan masyarakat. Ini pesta rakyat tahunan yang ternyata menarik minat wisata,” kata Kepala Dinas Pariwisata Lombok Tengah, Abdul Samad.
Menurut catatannya, event budaya ini selalu meningkatkan jumlah kunjungan wisata di kawasan Pantai di Desa Kuta, Lombok Tengah. Itu dilihat dari tingkat hunian yang selalu penuh di hotel dan peginapan yang ada, baik lokal maupun domestik.
“Jumlah pengunjung dan masyarakat yang ada di pantai Seger kami taksir belasan ribu yang terlibat bau Nyale,” katanya. Ia berharap festival ini semakin terkenal ke depannya.
Bau Nyale kemarin, juga dihadiri Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal, Lukman Eddy, Gubernur NTB HL Serinata, dan Bupati Lombok Tengah, HL Wiratmaja.
“Yang luar biasa dari tradisi ini adalah kebersamaannya. Saya melihat begitu banyak masyarakat berkumpul, tetapi tidak ada gangguan keamanan, semua bersama dan damai. Saya piker, pesan moral dalam legenda Mandalika ini bias ditiru bai kehidupan berbangsa dan bernegara kita di Indonesia. Semangat pengorbanan demi persatuan,” kata Lukman Eddy dalam sambutannya.
Gubernur Serinata mengatakan, tradisi bau nyale merupakan bagian pelengkap potensi pariwisata Lombok, khususnya di Lombok Tengah.
“Tak salah kalau sebuah perusahaan asal Dubai, PT Emaars berminat investasi. Mereka akan mengembangkan sekitar 400 hektare untuk kawasan penginapan wisata di Kuta,” katanya.
Potensi ini, menurut Gubernur akan semakin terbuka dengan pembangunan Bandara Internasional Lombok di Pujut Lombok Tengah yang diperkirakan rampung 2009 dan dapat beroperasi 2010.
Fajar menjelang, Rabu (27/2) lalu. Masyarakat pulang membawa hasil Bau Nyale. Cacing yang didapat akan dimasak secara tradisional di rumah masing-masing. Bisa di pepes atau dibumbu santan. Sisa minyak masakan itu kemudian dibuang ke sawah atau kebun, dengan maksud diberikan kesuburan.
Masyarakat yang mendapatkan lebih, akan menjual nyale. Harganya cukup tinggi, semangkuk bisa mencapai Rp.25.000,-
“Nyale juga dipercaya berkhasiat obat. Ini menu yang hanya bisa didapat setahun sekali,” kata Budayawan Lombok Tengah, Lalu Putriadi.
Di rumahnya di Desa Ketara, sekitar 10 Km dari pantai Seger, Kuta, istri Putriadi memasak nyale. Sekitar dua mangkuk banyaknya, yang didapat dalam berburu. Caranya dipepes menggunakan janur kelapa, kemudian diasapi. Setelah matang, nyale dicampur sambal untuk disantap bersama nasi.
Bentuk nyale yang sudah matang, mirip rumput laut, hijau agak kehitaman. Rasanya kesat saat dikunyah, dan terkecap mirip lemak daging. Yang belum terbiasa pasti merasa agak eneg.
Tapi cukup sulit menggambarkan rasa Nyale yang sudah dimasak, kepada orang lain. Sebab, untuk memastikan rasa Nyale, ya harus memakannya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar